10 Oktober 2010 ~ Semangat Pagi!
Business & Leisure | Tempat paling strategis dan kreatif di Jakarta untuk kegiatan seminar, training, meeting, walk-in interview, press conference, kumpul komunitas, serviced office, virtual office, coworking space, dan ticket box.
SELAMAT DATANG di blog ESTUBIZI Business Center | Business & Leisure. Tersedia layanan (klik pilihan Anda): seminar & training services | meeting services | serviced office | coworking space | VOTE: virtual office
Silakan hubungi: 021-5290.5299 [Kuningan] | 021-2751.5225 [Wolter Monginsidi] | whatsapp/line: 0821.2400.6088 | Twitter: @estubizi | email: marketing@estubizi.com | www.estubizi.com
Kamis, 07 Oktober 2010
Start Your VIRTUAL Office @ESTUBIZI
Seorang kawan jurnalis senior sempat berujar kepada saya bahwa dalam peliputan suatu berita bisnis, yang pertama harus dicermati adalah "Fakta (F)", kemudian buatlah "Kesimpulan (K)" dan terakhir berilah "Rekomendasi (R)". Konsep FKR ini meresap dalam pikiran saya, dan kerap saya gunakan untuk mencermati bisnis dan kegiatan yang saya lakukan. Dalam dunia bisnis dan entrepreneur, Rekomendasi inilah yang kita kenal sebagai Solusi, Solusi dan Solusi.
Fakta bahwa Jakarta adalah kota macet dan akan semakin macet adalah suatu fakta yang tidak terbantahkan. "Gregetan rasanya," sergah teman saya Ida yang saban hari harus melewati jalur Sudirman-Bintaro. "Paling tidak saya butuh waktu dua jam untuk bisa tiba di rumah, itu pun kalau saya pulang jam tujuh malam, padahal usai kantor jam lima sore, phuih capek rasanya," keluhnya.
"Kantor saya di Mampang, dan rumah saya di Depok, kalau saya bisa sampai 45 menit ke rumah suatu hal yang sangat bagus tuh," ujar Tono. "Padahal saya sudah naik motor dan dulunya saya coba naik busway untuk perpendek waktu di sepanjang Mampang Buncit, tapi yah hanya menolong sedikit. Tapi saya bersyukur tidak seperti teman lainnya yang tinggal di Lebak Bulus dan Ciputat," sergahnya sambil mengelus dada.
"Saya memilih tempat kerja di dekat rumah, tapi saya tetap harus menjemput istri di Thamrin," kata Joko pegawai bank swasta di BSD. "Saya selamat dari kemacetan Jakarta, tetapi bolak balik menjemput istri yang sedang hamil tua di kantor Thamrin, busyet deh, pantat gue panas tiap hari!, apalagi kalau pake ujan cet macret total coy..." keluhnya kesal. "Tapi ini mungkin pengorbanan gue buat anak gue yang pertama," serunya sambil senyum sumringah.
"Meski pun kata orang jadi entrepreneur itu enak karena punya fleksibilitas waktu, saya mau tak mau harus deal dengan prospek klien di tengah kota Jakarta. Saya tidak punya kantor di tengah kota, jadi janji ketemu prospek klien di cafe-cafe seperti Starbucks. Tapi giliran ada informasi rahasia, saya harus cari cafe yang ada ruang khusus yang tertutup. Berabe juga sih, saya diledek teman saya sebagai mobile cafe entrepreneur hahaha ...," canda Marsya entrepreneur PR Corporate Social Responsibility.
Apa kata Media?
Mari kita simak berita di media yang membuat kita harus bersiap siaga, "sedia payung sebelum hujan":
KOMPAS ~ Jumat, 8 Oktober 2010:
Warga Frustrasi Hadapi Macet
Detik.com ~ Selasa, 28 November 2010:
November Musim Hujan, Macet Ancam Lumpuhkan Jakarta
Sebenarnya seperti dilema bagi kami untuk mengatakan bahwa tulisan ini bukan sebuah iklan, tetapi fakta yang terjadi membuat kami berpikir untuk menyediakan solusi. Paling tidak, kami akan sangat berbahagia apabila akan ada banyak entrepreneur, profesional, freelancer, konsultan, trainer, start up business, banyak UKM, dapat mempunyai SOLUSI agar bisnis mereka tetap dapat berjalan lancar.
Meluncur Mulus di Jakarta Macet
Bila Anda bertanya kepada para entrepreneur kawakan sekaliber Bob Sadino, Ciputra, Sudhamek, Jusuf Kalla, Bill Gates ~ andaikata dia berkantor di Jakarta ;-), apakah mereka kapok dengan Jakarta macet? Mereka akan bilang, "Dalam setiap masalah sebenarnya sudah tersedia jawabannya". Apakah Anda percaya? Sebaiknya kita percaya, kalau tidak, mungkin kita hanya terjebak dalam masalah dan tidak pernah keluar menuju solusi. Kata orang bijak, "Hidup adalah kumpulan dari ide kreatif"
Pada tanggal 10 Oktober 2010 (10-10-10) yang akan datang, ESTUBIZI Business Center ~ www.estubizi.com, http://estubizi.blogspot.com, business center paling strategis dan kreatif di Jakarta ini, akan re-launch Paket Virtual Office yang mempunyai nilai tambah yang berbeda dengan Virtual Office lainnya. Boleh dibilang, ini adalah yang pertama di Indonesia. Kami menawarkan sesuatu yang unik namun akan sangat banyak bermanfaat bagi orang banyak, terutama para pebisnis, entrepreneur dan freelancer.
Hampir semua praktik Virtual Office di seluruh dunia "mewajibkan" harus menggunakan teknologi komunikasi dengan Call Forwarding. Apakah itu perlu? Tentu saja! Pengguna jasa akan sangat nyaman apabila mendengar suara operator Virtual Office di seberang sana yang menyambungkan telepon dari kliennya. Serasa sedang berada di salah satu ruangan business center, padahal mungkin ia sedang menikmati liburan di Bali atau bermain golf di Sentul. Call forwarding adalah salah satu kebanggaan bisnis Virtual Office karena menggunakan teknologi komunikasi yang boleh dibilang sangat mahal apabila tidak digunakan secara optimal.
Namun teknologi komunikasi saat ini dan gaya hidup para kaum profesional dan entrepreneur sudah berubah. Teknologi smartphone semakin mengakomodasi kebutuhan informasi yang instant serba cepat, sehingga
kaum profesional
dan entrepreneur bisa langsung merespon panggilan atau email, bahkan chatting dengan lawan bicaranya. Selain itu jejaring media sosial sudah sangat merebak sehingga sudah dapat dipastikan bahwa
kaum profesional
dan entrepreneur sudah memiliki smartphone dengan fasilitas facebook, twitter, chat seperti YM atau Google Talk, BBM, sms dan mms. Belum lagi dukungan dari hampir semua operator telekomunikasi yang menyediakan biaya komunikasi murah, baik antar operator dan terlebih lagi sesama operator.
Apalagi yang berbeda pada Virtual Office di ESTUBIZI Business Center?
Simak dalam informasi selanjutnya pada tanggal 10-10-10 di blog ini http://estubizi.blogspot.com
Salam,
Benyamin Ruslan Naba
from my desk @ everywhere
Resensi Buku: "Raja Na Pogos"

RESENSI BUKU “RAJA NA POGOS”
Karya: J. P. Sitanggang
Ketika Orang Batak merantau, ada banyak kisah dapat dituliskan dan ada banyak cerita dapat dituturkan. J. P. Sitanggang, sebagai Orang Batak yang aktif dan energik, ia berangkat dari “ketidaktahuannya” untuk mengenal lebih dekat dan lebih dalam; J. P. Sitanggang mencari tahu tentang Adat dan Budaya Batak.
Halak Batak, demikian sebutan akrab untuk Orang Batak, adalah masyarakat yang suka hidup berpetualang dan pekerja keras, tidak suka bermalas-malasan. Dimana pun ia merantau, amat jarang kita melihat Orang Batak berpangku tangan menikmati hidup selagi ada hal yang harus ia kerjakan.
Silsilah orang Batak dimulai dari Aji Tantan Dewata, yang memperanakkan Singaraja Batak, yang menurut legenda turun dari langit dan sampai di Gunung Pusuk Buhit. Salah satu anaknya, yaitu Silo Nabolon melahirkan Siraja Batak yang menjadi leluhur Orang Batak. Anak Siraja Batak adalah Lontung dan Isumbaon. Kini Orang Batak adalah kelompok etnis keempat terbesar Indonesia, setelah Suku Jawa, Sunda, dan Bali.
Tulisan ini diilhami oleh suatu pengalaman di Palu, Sulawesi Tengah. Dalam suatu perjalanan menuju Donggala, penulis berpapasan dengan sebuah pick-up. Di kaca depan mobil tertulis dengan huruf besar sehingga semua sisi kaca terisi tulisan ALA NI POGOS. Penulis merenung. Pasti si pemilik seorang pengusaha danm sudah berhasil. Pengusaha yang dengan kerendahan hati dan dengan tekad yang membara, tiba dan berusaha di Sulawesi.
Teringat penulis tentang "Peta Kemiskinan" yang diekspos Harian Sinar Harapan tahun 1983. Pikiran penulis melayang ke Bona Pasogit. Miskin, Mangaranto, Panombangan, Perselisihan, Perkelahian, dan lain-lain silih berganti memasuki pikiran.
Penulis mulai menulis setelah memiliki alat tulis yang dapat dikantongi. “Kalau menulis di rumah agak sulit,” ujarnya. Jadi konsep tulisan ini dikerjakan di perjalanan. Awalnya dengan konsep judul "Ala Ni Pogos".
Dalam perkembangannya waktu diskusi dengan istri yang bertindak sebagai narasumber dan korektor, mengatakan mengapa judul Ala Ni Pogos, bukan "Raja Na Pogos". Dulu semasa mahasiswa oleh kawan-kawan dekat, penulis memang diberi gelar "Raja Na Pogos", dan benar Raja Na Pogos. Dipanggil Raja Na Pogos karena tak pernah punya duit, tetapi penampilan selalu keren. Keren karena selalu berpakaian rapi. Celana hanya dua, tetapi terbuat dari bahan yang tahan lama tidak ke cucian. Dipilih warna gelap. Baju terbuat dari bahan yang kalau dicuci dan kering langsung dapat dipakai tanpa digosok. Tetapi kalau hari Minggu ke gereja selalu berusaha memakai celana dan baju berwarna putih. Sistem ini dipakai untuk menutupi hapogoson, terutama keadaan ini harus dilakukan untuk menjaga penampilan sebagai Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Sumatera Utara.
Tulisan ini memang merupakan "perjalanan hidup, yang berisikan pengalaman, pengamatan, dan rekaman dari beberapa pembicaraan dengan tua-tua". Kegigihan untuk mematahkan hapogoson penulis coba tuliskan dari pengamatan kehidupan orang-orang di sekitar kehidupan penulis, termasuk di dalamnya hakristenon ni halak Batak, mulai dari Bona Pasogit sampai ke Tano Parserahan.
Dalam tulisan ini penulis mencoba menguraikan beberapa hal mengenai acara-acara Batak yang berhubungan dengan adat dan kemasyarakatan, kegiatan yang penulis alami, penulis lihat dan yang penulis dengar. Penulis mencoba membuat hipotesa bahwa Adat Batak tak ada, yang ada adalah adat daerah-daerah Batak, katakanlah Adat Samosir, Adat Toba, Adat Humbang, Adat Silindung, Adat Mandailing, Adat Angkola, dan sebagainya.
Di setiap acara sulit kita mengatakan bahwa itu Adat Batak, karena apa yang dilaksanakan walau nama acara sama dengan yang dilakukan di tempat lain atau oleh orang lain, ternyata berbeda. Setiap menghadiri acara adat, selalu dijumpai hal yang berbeda pada kegiatan yang sama. Semua keadaan ini penulis nilai merupakan bagian dari hapogoson.
Buku ini terdiri dari lima bab yang dilengkapi dengan Daftar Pustaka dan Lampiran yang berisi catatan para sahabat dan relasi yang mengenal secara dekat pribadi dan kiprah J. P. Sitanggang. Bab 1 menguraikan tentang HalakBatak. Bab 2 tentang Adat dan Budaya, Bab 3 tentang Dalihan Na Tolu yang menguraikan filosofi hidup Orang Batak. Bab 4 tentang Perjalanan Hidup Seorang Anak Batak yang mengisahkan perjalanan hidup, karir dan petualangan J. P. Sitanggang mencari tahu tentang Adat dan Budaya Batak.
Buku ini terdiri dari 262 halaman, diterbitkan oleh Penerbit Jala Permata Aksara (2010).
Selamat menikmati dan membaca Buku “Raja Na Pogos”.
Seminar Budaya Batak dan Bedah Buku “Raja Na Pogos” diselenggarakan di ESTUBIZI Business Center, Jakarta pada hari Selasa 6 April 2010. Acara ini terselenggara berkat kerja sama JALA Penerbit, Majalah TAPIAN dan ESTUBIZI Business Center.
Langganan:
Postingan (Atom)

